Beberapa hari yang lalu, saya ditantang oleh Mas Himawan untuk mengunggah foto hitam putih di akun Instagram saya (@gilangprahars). Tantangan dimulai ketika seseorang menandai temannya dalam foto hitam putih yang diunggah kemudian dibubuhi tagar #BWchallenge.

Kadang-kadang orang bertanya, mengapa foto hitam putih di zaman modern seperti ini? Ada beberapa alasan yang dapat menjawab pertanyaan tersebut yang saya sarikan dari beberapa laman di internet. Pertama, foto hitam putih merupakan foto yang fleksibel karena dapat diaplikasikan ke berbagai jenis foto seperti potrait, landscape, dan arsitektur. Kedua, beberapa orang menganggap bahwa warna pada foto dapat mengalihkan fokus utama penikmat foto dari subyek yang ingin ditonjolkan oleh fotografer, sehingga foto hitam putih dapat meniadakan gangguan tersebut. Ketiga, foto hitam putih dapat memunculkan tone yang membentuk mood foto yang berbeda. Keempat, foto berwarna hanya akan terlihat indah apabila warna yang ditampilkan memang benar-benar indah.

Penilaian keindahan foto  kembali lagi ke diri penikmat foto berdasarkan referensi dan rasa yang ia miliki, sehingga dapat disimpulkan bahwa pada akhirnya fotografi menjadi hal yang sangat subyktif.

(1/5)

(2/5)


(3/5)

(4/5)

(5/5)

Keterangan:
Foto (1/5) diambil menggunakan kamera telepon genggam di sela-sela periode magang saya di KPP Pratama Purwokerto. Foto (2/5) sudah pernah diunggah di posting sebelumnya, foto penjual kacang dalam acara grebeg sura di Kecamatan Baturraden. Foto (3/5) file foto tahun 2011 ketika pertama kali merasakan pengalaman memotret menggunakan kamera lubang jarum. Foto (4/5) alat pencukur yang saya dapatkan dari kakek. Foto (5/5) Senja setelah hujan reda di salah satu sudut kota Purwokerto.